Udah 2 tahun mami meninggalkan kami.Gw pikir seiring dengan berjalannya waktu akan terbiasa hidup tanpa beliau,tapi ternyata pikiran gw salah,semakin lama gw tuh semakin kangen dan gw baru menyadari kalo beliau tuh sayang banget sama gw.
emmmh mami maafin icha ya,dulu sering bilang kalo mami bawel,cerewet suka ngatur tapi sekarang icha sadar mi,kalo mami ngelakuin itu karena mami sayang banget sama icha dan mami ga mau icha salah melangkah.
sekarang pasti mami udah seneng disana,udah ga sakit lagi dan pasti udah ketemu sama abah.iya kan mamiku sayang...???hehehe
Peluk dan cium untuk mamiku tersayang....
I MISS U SOO MUCH.... :)
(ga kerasa pas nulis posting ini sampe berurai air mata)hihihi...
about me
- icha imo
- seorang wanita cantik yang dilahirkan di Jakarta pada 9 April 1990... salah satu cita-cita gw adalah menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain"
Minggu, 21 Maret 2010
Sabtu, 20 Maret 2010
Ga kerasa udah setahun...(part 2)
nerusin cerita tentang SWIS tahun lalu....
emmmh...seperti biasa kalo gw tuh susah banget tidur di tempat yang baru pernah gw singgahi,malam itu setelah sholat isya berjama'ah kami cewe-cewe kembali ke villa yang di khususkan untuk akhwat(untuk para cowo haram hukumnya masuk ke sini kalo ga ada keperluan),jam telah menunjukan pukul 12 dini hari tapi mata gw ini ga bisa di ajak buat istirahat,thiponk dan ndy yang malem itu ga tidur di kamar karena nemenin gw udah masuk ke alam mimpi masing-masing.kalo ga bisa tidur waktu tuh jalannya lama banget,gw ga tau akhirnya gw tidur jam berapa yang gw tau gw kebangun karena udah waktunya buat sholat tahajud.(duh udah ga mood nulisnya,nanti deh lanjutan ceritanya)
emmmh...seperti biasa kalo gw tuh susah banget tidur di tempat yang baru pernah gw singgahi,malam itu setelah sholat isya berjama'ah kami cewe-cewe kembali ke villa yang di khususkan untuk akhwat(untuk para cowo haram hukumnya masuk ke sini kalo ga ada keperluan),jam telah menunjukan pukul 12 dini hari tapi mata gw ini ga bisa di ajak buat istirahat,thiponk dan ndy yang malem itu ga tidur di kamar karena nemenin gw udah masuk ke alam mimpi masing-masing.kalo ga bisa tidur waktu tuh jalannya lama banget,gw ga tau akhirnya gw tidur jam berapa yang gw tau gw kebangun karena udah waktunya buat sholat tahajud.(duh udah ga mood nulisnya,nanti deh lanjutan ceritanya)
Senin, 15 Maret 2010
Kisah Khalifah Umar dan Ibu Pemasak Batu
Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.
Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”
Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu, hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”
Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.
Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.
Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.
“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.
Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”
“Apakah ia sakit?”
“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”
Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.
Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”
Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”
Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Buat apa?”
Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-btu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”
Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”
Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.
Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”
Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”
Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.
Menurut gw seharusnya para pemimpin di Indonesia tuh mempunyai jiwa seperti Umar Bin Khotob.Tetap memperhatikan rakyatnya secara langsung.Ga hanya pas mau pemilu semua Capres dan Cawapres berlomba-lomba untuk menunjukan bahwa dirinya atau partainya yang paling prorakyat.Tetapi begitu terpilih untuk bersalaman saja rasanya bagai mimpi bagi rakya jelata seperti gw,dangan kawalan paspampres yang sangat ketat.Dan yang paling gw ga suka kalo ada "Pejabat tinggi negara" mau lewat,semua akses jalan ditutup selama setengan jam bukankah itu menggangu kepentingan umum??
jalanan jadi macet dan yang paling mahal waktu yang kita punya terbuang-buang secara percuma,padahal harga satu detik yang baru aja lewat itu ga terbayar oleh apapun,karena di dunia ini yang paling mahal dan yang paling jauh adalah waktu yang baru saja berlalu dengan kesia-siaan....
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/umar-dan-ibu-pemasak-batu/
Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”
Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu, hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”
Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.
Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.
Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.
“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.
Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”
“Apakah ia sakit?”
“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”
Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.
Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”
Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”
Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Buat apa?”
Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-btu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”
Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”
Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.
Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”
Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”
Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.
Menurut gw seharusnya para pemimpin di Indonesia tuh mempunyai jiwa seperti Umar Bin Khotob.Tetap memperhatikan rakyatnya secara langsung.Ga hanya pas mau pemilu semua Capres dan Cawapres berlomba-lomba untuk menunjukan bahwa dirinya atau partainya yang paling prorakyat.Tetapi begitu terpilih untuk bersalaman saja rasanya bagai mimpi bagi rakya jelata seperti gw,dangan kawalan paspampres yang sangat ketat.Dan yang paling gw ga suka kalo ada "Pejabat tinggi negara" mau lewat,semua akses jalan ditutup selama setengan jam bukankah itu menggangu kepentingan umum??
jalanan jadi macet dan yang paling mahal waktu yang kita punya terbuang-buang secara percuma,padahal harga satu detik yang baru aja lewat itu ga terbayar oleh apapun,karena di dunia ini yang paling mahal dan yang paling jauh adalah waktu yang baru saja berlalu dengan kesia-siaan....
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/umar-dan-ibu-pemasak-batu/
Minggu, 14 Maret 2010
Ga kerasa udah setahun...

bukan setahun jadian loh....
tapi ga kerasa udah setahun gw pake jilbab,hehehhee...
bermula dari ikutan acara yang diadain sama rohis di kampus tercita yaitu "SWIS" Studi Wisata Islam selama 3 hari di Cilember Bogor.Sebenernya kalo urusan pake jilbab mah udah biasa coz pas SMA,gw masuk sekolah Muhammadiyah yang mewajibkan semua siswinya memakai jilbab.Emmmh pertama kali masuk SMA ada keterpaksaan memang tapi seiring dengan berjalannya waktu gw mulai menikmati acara pake kerudung.Walaupun pake jilbabnya cuma di sekolah tapi mulai saat itu juga gw mulai belajar untuk mulai mengurangi pake tanktop,celana pendek sambil menguatkan hati untuk pake jilbab secara istikomah.alhamdulillah sedikit demi sedikit sekarang udah keliatan perubahannya,walaupun belom selalu menutupi rambut ini dengan jilbab gw yakin akan ada perubahan lagi dari dalem diri gw dan gw ga tau itu kapan.
Balik lagi ke acara SWIS,3 hari yang membawa perubahan besar...hohoho
kita berangkat tanggal 130309 tepatnya hari jumat sore,dengan persiapan 1 tas gede yang isinya tuh semua perlengkapan perang mulai dari baju,calana jeans,baju tidur,mukena sampe bantal(gw susah bgt beradaptasi untuk tidur ditempat yg baru tanpa bantal gw)hehehe... udah kaya mau pergi kemana aja.Ba'da sholat Ashar kita brefing sebentar trus langsung on the way ke Cilember via tol kebon jeruk yang selalu padat merayap kemuadian masuk tol grogol yang juga dipadati oleh mobil-mobil pribadi yang berlomba dengan waktu untuk sampai ke rumahnya masing-masing.Di bis(bis dinas angkatan laut) gw duduk sama sohib gw thiponk yang bikin deg-degan pas bis baru lepas landas dia bilang cha gw itu mabok darat jadi jangan kaget ya kalo nanti gw muntah,huaaa....lemes pas denger dia ngomong kaya gitu coz gw paling males sama hal yang berbau "mabok".Tapi ketakutan gw soal soal maboknya thiponk gw ini hilang karena selama dalam perjalanan dia ga mabok...hahahha soalnya selama otw kita ngobrol sambil makan,Alhamdulillah kita semua sampe dengan selamat walaupun pas sampe hari telah larut matahari telah tertidur diufuk barat digantikan oleh bulan yang menemani kami malam itu.(bahasa gw cin... :P)
"ayo semua turun bawa barangnya masing-masing",kata kaka panitia.
glek,gimana caranya gw bawa turun tas gw yang segede gaban ini sendirian mana si tiponk udah sibuk sama bawaanya dia sendiri.Lagi-lagi Allah memberikan pertolongannya ada kaka panita yang bersedia membawakan tas gw yang "kecil" itu :P sampe kedalam villa.(sampe sekarang gw ga tau siapa nama senior yg udah bantuin gw itu,siapapun itu thanks a lot deh :D).
rasanya baru 10 menit ngelonjorin kaki udah ada panggilan lagi dari panitia.
"capet wudhu sana kan kita belom sholat magrib jadi harus segera dilaksanain"katanya.
selesai sholat,cacing-cacing di dalem perut udah ga bisa lagi diajak kompromi.Seperti bisa baca pikiran kita semua kaka panita langsung membagi kelompok makan(makanannya ditaro disatu tampah,satu tampah untuk 5 orang).gw lupa waktu itu siapa aja nama kelompok makan gw,kalo urusan perut bisa bikin lupa sama orang-orang sekitar.heheheehe....
malam itu kegitan kami hanya sholat berjama'ah,makan,terus pembacaan schedule dari panitia tentang kegitan apa yang akan kami lakukan selama 2 hari ke depan.
Sabtu, 23 Januari 2010
PAPAKU HEBAT
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu…..
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Papa telah menyelesaikan tugasnya….
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
nb:papa,apapun pekerjaan engkau aku tetap bangga memiliki papa seperti engkau...
jangan pernah putus asa ya pa,Allah pasti memberikan kita yang terbaik...
suatu saat nanti kita buktikan kalo papa bisa mengantarkan anak-anak papa sampai sukses,bisa bikin mama sama papa bangga sama kami...terima kasih atas segala pengornanmu,kerja kerasmu,tetesan keringatmu...semoga Allah membalas semuanya..amin
I LOVE U DAD... (^_^)
sumber: (kaskus.us)
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu…..
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Papa telah menyelesaikan tugasnya….
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
nb:papa,apapun pekerjaan engkau aku tetap bangga memiliki papa seperti engkau...
jangan pernah putus asa ya pa,Allah pasti memberikan kita yang terbaik...
suatu saat nanti kita buktikan kalo papa bisa mengantarkan anak-anak papa sampai sukses,bisa bikin mama sama papa bangga sama kami...terima kasih atas segala pengornanmu,kerja kerasmu,tetesan keringatmu...semoga Allah membalas semuanya..amin
I LOVE U DAD... (^_^)
sumber: (kaskus.us)
Jumat, 22 Januari 2010
it's me
hello...kenalin nama gw Anisa Aprilia biasa dipanggil Icha.Gw anak pertama dari tiga bersaudara,ade gw yang pertama cuma beda setahun dari gw trus ade gw yan kedua beda 7 tahun jadi sering ribut ama dia,soalnya beda pola pikir.Gw tinggal di Jakarta,kota megapolitan yang polusinya peringkat 3 di dunia.Kota yang tiap hari dituju sama 7juta orang buat cari nafkah.Kota yang selalu macet dan satu lagi kota yag selalu banjir dikala musim hujan melanda.Tapi apapun kejelekan gw bangga jadi warga yang punya KTP Jakarta...hehehhehee.Soalnya banyak orang yang rela jauh-jauh dateng ke Jakarta cuma buat cari sesuap nasi,cari ilmu ampe nyari orang yang ilang(lebayyy).
Gw tinggal di Jakarta Selatan,kata orang daerah elit tapi menurut gw lingkungan rumah gw biasa-biasa aja mungkin yang elir itu daerah Pondok Indah,Kemang,Darmawangsa karena letak rumah gw deket Pondok Indah ga papa juga deh dibilang elit...hohoho.
Oia,sekarang gw kuliah di salah satu universitas swasta yang bernaung di bawah nama besar Perusahan Listrik Negara yaitu STT-PLN.satu-satunya kampus yang punya gardu listrik sendiri tapi sayang pas kemaren krisis listrik fasilitas kampus juga ikut-ikutan mati,lift cuma 2 yang beroperasi trus AC yang sedingin biasanya...huhuhu
taip sekarang udah kembali berjalan normal.Di kampus gw punya beberapa temen yang nempel kaya perangko(jangan pada geer ye... :P)emmhh...cuam 3 orang doang sih sebenernya tapi kalo udah ngumpul,wah ibi-ibu seRT mah kalah sama suara kita.(lebih lengkapnya nanti gw bahas satu-satu siapa aja mereka).
Sekarang kita bahas keluarga gw.mungkin menurut orang keluarga gw tuh paling harmonis,liburan bareng,jalan-jalan ke mall,nonton sekeluarga.Sayang itu hanya kelihatan dari luar aja di dalemnya juga sama kaya keluarga yang lain banyak konflik mulai dari mamah papah yang sering ribut,menurut gw yang diributin tuh cuma masalah sepele yang seharusnya ga perlu diributin.mungkin inilah yang disebut sebagai hidup ga selama berjalan sesuai dengan apa yang kita mau.Kalo mamah papah lagi berantem gw cuma bisa diam dengerin mereka saling menjek-jelekan satu sama lain.ini yang gw ga suka menurut gw aib pasangan itu ga perlu diumbar-umbar.udahlah ga perlu dibahas.tapi sebenernya gw seneng banget kok punya mamah papah seperti mereka apapun kekurang dan kelebihan mereka.
Gw tinggal di Jakarta Selatan,kata orang daerah elit tapi menurut gw lingkungan rumah gw biasa-biasa aja mungkin yang elir itu daerah Pondok Indah,Kemang,Darmawangsa karena letak rumah gw deket Pondok Indah ga papa juga deh dibilang elit...hohoho.
Oia,sekarang gw kuliah di salah satu universitas swasta yang bernaung di bawah nama besar Perusahan Listrik Negara yaitu STT-PLN.satu-satunya kampus yang punya gardu listrik sendiri tapi sayang pas kemaren krisis listrik fasilitas kampus juga ikut-ikutan mati,lift cuma 2 yang beroperasi trus AC yang sedingin biasanya...huhuhu
taip sekarang udah kembali berjalan normal.Di kampus gw punya beberapa temen yang nempel kaya perangko(jangan pada geer ye... :P)emmhh...cuam 3 orang doang sih sebenernya tapi kalo udah ngumpul,wah ibi-ibu seRT mah kalah sama suara kita.(lebih lengkapnya nanti gw bahas satu-satu siapa aja mereka).
Sekarang kita bahas keluarga gw.mungkin menurut orang keluarga gw tuh paling harmonis,liburan bareng,jalan-jalan ke mall,nonton sekeluarga.Sayang itu hanya kelihatan dari luar aja di dalemnya juga sama kaya keluarga yang lain banyak konflik mulai dari mamah papah yang sering ribut,menurut gw yang diributin tuh cuma masalah sepele yang seharusnya ga perlu diributin.mungkin inilah yang disebut sebagai hidup ga selama berjalan sesuai dengan apa yang kita mau.Kalo mamah papah lagi berantem gw cuma bisa diam dengerin mereka saling menjek-jelekan satu sama lain.ini yang gw ga suka menurut gw aib pasangan itu ga perlu diumbar-umbar.udahlah ga perlu dibahas.tapi sebenernya gw seneng banget kok punya mamah papah seperti mereka apapun kekurang dan kelebihan mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)